![]() |
SAMBUTAN - Ketua DPW APBMI Kalselteng, H Djumadri Masrun kala membuka acara halal bihalal di Hotel Palm Banjarmasin, Selasa (12/8). |
Untuk itu, kata Pak Djum PBM di Kalsel harus mulai menjaga kondisi perusahaan masing-masing. "Bukan berarti PBM di Kalselteng anti dengan TKA Cina. Namun, mengingat saat ini masih banyak tenaga kerja (naker) lokal, rasanya tidak etis kalau memperkerjakan TKA," nilai Pak Djum di sela-sela acara halal bihalal DPW APBMI Kalselteng di Hotel Palm Banjarmasin, Selasa (12/8).
Dikatakan Pak Djum, para naker lokal sebenarnya tidak kalah kualitasnya dengan TKA. Bahkan, bisa dibilang naker lokal untuk bidang Tenaga Kerja Bongkar Muat (TKBM) lebih unggul dibandingkan TKA. "Pasalnya, mereka lebih menguasai medan dan lapangan kerja. Sehingga, kelancara pekerjaan bongkar muat di pelabuhan dapat berjalan lancar. Kalau menggunakan TKBM asing, dikhawatirkan akan terkendala bahasa dan harus memakan waktu lagi bagi mereka untuk beradaptasi dengan lingkungan kerja di pelabuhan," tambahnya.
Di sisi lain, pengawasan yang ketat dari dinas terkait terhadap TKA juga berpotensi jadi bumerang bagi pemilik TKBM. "Bagaimana jika TKA yang dipekerjakan tersebut justru ilegal, kan jadi merepotkan pemilik PBM," urainya.
Sementara itu, dalam kegiatan halal bihalal tersebut dihadiri perwakilan PBM se-Kalselteng dan sejumlah perwakilan Dewan Pengurus Cabang (DPC) APBMI tingkat kabupaten/kota.(oza)